![]() |
| ADV Rikha Permatasari, S.H., M.H |
Radar Warga News| NTT, Dalam dinamika sosial-politik di Nusa Tenggara Timur (NTT), nama Advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H. mulai sering terdengar. Bukan karena sensasi, melainkan karena langkah-langkah hukumnya yang tegas namun tetap elegan. Di tengah berbagai polemik hukum di daerah, kehadirannya dianggap membawa warna baru: profesional, berani, tapi tetap membumi.
Secara formal, Rikha dikenal sebagai praktisi hukum sekaligus mediator bersertifikat. Namun dalam praktiknya, pengaruhnya di ruang publik tidak berhenti di ruang sidang saja. Banyak kasus strategis yang ia tangani justru menjadikannya figur yang diperhitungkan dalam percakapan sosial dan bahkan politik lokal. Singkatnya, kalau ada kasus besar yang bikin masyarakat garuk-garuk kepala, biasanya ada saja nama Rikha di balik meja pembelaan.
Profil Profesional yang Tak Main-Main
Rikha Permatasari memiliki latar belakang akademis yang kuat serta sejumlah sertifikasi profesional seperti Certified Mediator dan Certified Legal Officer. Kehadirannya di level daerah seperti NTT sering dianggap sebagai “standar nasional yang turun langsung ke lapangan”.
Beberapa kasus yang pernah ia tangani bahkan menjadi sorotan publik luas, mulai dari pendampingan hukum dalam kasus tewasnya Prada Lucky hingga sengketa lahan yang menyangkut kepentingan masyarakat lokal.
Bagi sebagian orang, sengketa lahan sering terasa seperti drama tanpa akhir. Namun di tangan advokat yang serius, perkara seperti ini bisa berubah menjadi perjuangan hukum yang memberi harapan bagi warga yang selama ini merasa suaranya kecil.
Tegas Soal Hak Imunitas Advokat
Salah satu sikap yang membuat Rikha dikenal luas adalah keberaniannya menyuarakan hak imunitas advokat. Ia beberapa kali secara terbuka mengingatkan aparat dan masyarakat bahwa advokat yang menjalankan tugasnya dilindungi oleh .
Pesannya sederhana tapi penting: advokat itu tugasnya membela, bukan untuk dibungkam.
Kalau diibaratkan pertandingan sepak bola, advokat adalah pemain yang bertugas menyerang demi membela klien. Jadi agak aneh kalau setiap kali menyerang malah dianggap melanggar aturan. Di situlah Rikha sering muncul mengingatkan bahwa hukum punya mekanisme yang harus dihormati semua pihak.
Perempuan di Garda Depan
Di panggung hukum dan politik NTT yang masih didominasi laki-laki, kehadiran Rikha Permatasari membawa pesan yang kuat. Ia menunjukkan bahwa perempuan juga mampu berdiri di garis depan dalam menghadapi kasus-kasus berat, termasuk yang melibatkan institusi besar maupun konflik sosial yang sensitif.
Keberanian ini membuatnya sering disebut sebagai salah satu figur perempuan yang memberi inspirasi bagi generasi muda, terutama bagi perempuan yang ingin berkarier di dunia hukum.
Tantangan yang Tidak Sedikit
Perjalanan seorang advokat yang vokal tentu tidak selalu mulus. Pada akhir 2025, Rikha sempat menghadapi upaya pelaporan hukum dalam sebuah sengketa lahan di Kupang. Situasi seperti ini sering disebut oleh banyak advokat sebagai bentuk tekanan terhadap profesi.
Namun alih-alih mundur, Rikha justru merespons dengan bantahan hukum yang sistematis. Sikap tersebut menunjukkan bahwa dalam dunia hukum, keberanian harus selalu ditemani dengan argumentasi yang kuat.
Patut Dicontoh
Saat ini, banyak pengamat melihat Rikha Permatasari sebagai sosok yang berperan sebagai “influencer politik dalam bidang hukum”. Ia memang belum terlihat terafiliasi secara formal dengan partai politik tertentu, namun pengaruhnya dalam membentuk opini publik dan memperjuangkan isu keadilan sudah cukup terasa.
Yang membuatnya patut dicontoh bukan hanya keberaniannya berbicara, tetapi juga konsistensinya menggunakan jalur hukum sebagai alat perjuangan.
Di tengah berbagai dinamika penegakan hukum di Indonesia, figur seperti Rikha Permatasari menjadi pengingat bahwa profesi advokat bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga panggilan untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan keadilan.
Dan kalau boleh sedikit bercanda serius: di dunia hukum yang kadang terasa rumit seperti teka-teki silang tingkat nasional, kehadiran advokat yang berani, cerdas, dan tetap punya selera humor adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, hukum memang harus tegas—tapi manusia yang menjalankannya tetap harus punya hati.(Nvn)
