![]() |
| Santoso warga ploso kuning yang apresiasi jalan lebih baik |
MOJOKERTO — Breaking news tapi santai, gan. Pemerintah Kabupaten Mojokerto akhirnya melakukan hal yang selama ini cuma ada di doa malam warga Ploso kuning Jetis: Pelebaran Jalan Batankrajan–Penompo. Bukan pelebaran dompet, bukan pelebaran senyum, tapi beneran pelebaran aspal. Tim Radar Warga pun turun ke lokasi, pakai sendal jepit, jaket pinjaman, dan modal nekat, untuk menginvestigasi proyek yang katanya bakal bikin ekonomi warga melesat kayak motor RX King habis turun dari tanggul.
FAKTA PERTAMA: PANJANGNYA BIKIN BINGUNG, 490 METER ITU SEBERAPA SIH?
Berdasarkan hasil ngopi-ngopi kami bersama tukang parkir dan pedagang es teh di sekitar lokasi, proyek ini menelan dana Rp2.377.047.000,00 — angka yang kalau dibaca di depan umum bikin lidah keseleo. Kontraknya dikerjakan CV Alfi Jaya, dengan durasi 150 hari kalender.
Radar Warga sempat bingung: 150 hari itu lama atau sebentar? Setelah kami hitung pakai kalkulator warung, ternyata itu setara 5 bulan, atau sekitar 3 kali putus cinta anak SMK. Pengerjaan dimulai 4 Juni 2026 dan ditargetkan rampung 31 Oktober 2026.
Pertanyaannya: kalau 31 Oktober belum selesai, apakah aspalnya ditarik lagi? Kita tunggu jawaban dari pihak berwenang sambil ngopi.
FAKTA KEDUA: LEBAR 5,50 METER, CUKUP BUAT LEWAT DUA TRUK ATAU DUA HATI YANG BERSELISIH?
Dari pantauan investigasi kami yang penuh drama, jalan ini dilebarkan menjadi lebar 5,50 meter. Artinya, dua kendaraan bisa berpapasan tanpa harus saling mengalah seperti pasangan yang sedang ngambek. Warga pun berharap jalan ini bisa memperlancar distribusi hasil pertanian, produk UMKM, dan — yang paling penting — distribusi kabar gosip lewat grup WhatsApp RT.
Salah satu pelaksana proyek, Sugiarto, menyebut bahwa jalan yang lebih lebar dan berkualitas akan mempercepat mobilitas warga. Radar Warga mencatat: ini pernyataan paling tidak kontroversial hari ini. Kami hampir menangis haru karena jarang-jarang ada pernyataan proyek yang tidak bikin emosi.
FAKTA KETIGA: ADA WARGA TERHARU, KAMI SELIDIKI!
Yang bikin Warga terharu sekaligus ngakak adalah kesaksian Santoso, warga Dusun Plosokuning, Desa Penompo. Dengan mata berkaca-kaca (mungkin karena debu proyek, tapi kami yakini karena haru), ia mengucapkan terima kasih.
"Pelebaran jalan ini sangat dibutuhkan. Kami berharap kualitas pekerjaannya baik agar akses transportasi semakin lancar dan aktivitas ekonomi warga meningkat."
Radar Warga menduga kuat, sebelum jalan ini diperbaiki, Santoso sudah hafal setiap lubang di jalan itu kayak hafal nama mantan. Sekarang, ia bisa melintas tanpa harus zig-zag seperti pemain slalom olimpiade.
ADA YANG GANJIL, TAPI MUNGKIN CUMA KAMI YANG TERLALU BANYAK PIKIR
Kami mencoba mencari kejanggalan. Misalnya: kenapa nilainya harus Rp2,377 miliar? Kenapa nggak dibulatkan jadi Rp2,4 miliar biar gampang diingat? Apakah ada hitungan tersembunyi seperti biaya kopi pekerja, rokok mandor, atau traktiran launching? Radar Warga belum bisa memastikan. Bisa jadi itu cuma angka teknis. Tapi kalau ada yang tahu, silakan DM.
Yang jelas, selama proyek berlangsung, masyarakat diminta lebih berhati-hati karena ada alat berat dan pekerja di lokasi. Kami mengimbau: jangan selfie di depan ekskavator demi konten TikTok. Nyawa nomor satu, viral nomor dua.
KESIMPULAN RADAR WARGA
Jika rampung tepat waktu, ruas Batankrajan–Penompo bakal jadi jalur yang lebih aman, nyaman, dan meningkatkan konektivitas antarwilayah di Kecamatan Jetis. Ekonomi diharapkan tumbuh. Warga berharap kualitasnya bagus. Kami berharap tidak ada proyek lanjutan "perbaikan jalan yang baru saja diperbaiki" tahun depan.
Redaksi Radar Warga mengucapkan terima kasih kepada CV Alfi Jaya, Pak Santoso, Pak Sugiarto, dan seluruh warga yang sudah bersedia kami wawancarai sambil menahan lapar. Sampai jumpa di investigasi berikutnya: "Siapa Sebenarnya yang Menaruh Batu di Tengah Jalan Baru? Sebuah Drama".
(Hr/Radar Warga)
